Sebuah Kursi Kosong
0
Comments
Seorang gadis mengundang
seorang Pendeta untuk datang ke rumahnya
mendoakan ayahnya yang sedang sakit. Pada waktu Pendeta datang, ia mendapati
seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi
kosong di depannya.
"Tentu anda telah
menanti saya", kata si Pendeta.
"Tidak, siapakah
anda?", tanya bapak itu.
Pendetapun
memperkenalkan diri dan berkata, "Saya melihat kursi kosong ini, saya kira
Bapak sudah tahu kalau saya akan datang."
"Oo, kursi
itu," kata si Bapak, "Maukah anda menutup pintu kamar itu ?"
Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pendetapun menutup pintu kamar.
"Saya mempunyai
sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal
sayapun tidak tahu," kata si Bapak. "Seumur hidupku saya tidak pernah
tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pendeta
tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari
kepala saya."
"Semua cara sudah
saya coba, tapi selalu gagal," lanjut si Bapak, "Sampai pada suatu
hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu
cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus."
"Dia mengajari saya
begini: duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu
bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantuNya lho, karena Ia
telah berjanji "akan senantiasa besertamu", kemudian berbicaralah
biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini."
"Sayapun mencoba
cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari
saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara
sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat
saya bercakap-cakap dengan kursi kosong."
Si Pendeta sangat
tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap
melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya
Sakramen Perminyakan, Pendeta pun pulang. Dua hari kemudian, si gadis
memberitahu Pendeta kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.
"Apakah ia
meninggal dengan damai?" tanya si Pendeta.
"Ya, waktu saya
pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya
dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya.
Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah
sudah meninggal."
"Tapi ada suatu
kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk diatas
tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah
tempat tidur. Bagaimana pendapat Pendeta?"
Sambil mengusap air
matanya, Pendeta pun berkata, "Saya berharap kita semua kelak dapat
meninggal dengan cara itu."

Post a Comment